Saat itu josep sunyol tengah menghadiri acara politik, dimana ia harus mengunjungi para pasukan tentara spanyol yang ada disebelah utara kota madrid. Barcelona sendiri sempat menjadi salah satu organisasi yang dijadikan target utama untuk dihancurkan oleh kaum nasionalis spanyol setelah mereka berhasil menyingkirkan kaum komunis, anarkis, dan juga para pemisah lainnya. Sepanjang era kekuasaan francisco franco, sebagian besar dari penduduk kota barcelona sempat menyuarakan dengan keras ketidakberpihakan mereka terhadap rezim francisco franco yang dianggap seperti pemimpin fasis layaknya adolf hitler. Phil Ball, sang penulis buku berjulul morbo: sthe story of spanish football alias sejarah berita bola spanyol sempat memberikan komentarnya mengenai laga sepakbola el clasico antara real madrid dan barcelona dengan mengatakan bahwa mereka saling membenci satu sama lain dengan tingkat kebencian yang sangat tinggi sebuah peranan yang penting.
Sepanjang masa kekuasaan miguel primo de rivera yang terjadi setelah francisco franco lengser, seluruh bahasa daerah yang ada di spanyol tidak disarankan untuk dipelajari dan dipraktikkan, malah dianggap sebaga sesuatu yang sangat buruk serta peluasan dan pengajarannya sempat dibatasi, hanya boleh dilakukan didalam daerah itu saja. Pada masa berita bola dunia kala itu, barcelona sempat mendapatkan moto utama mereka yakni mes que un club yang dalam bahasa indonesia artinya "lebih dari sekedar klub". Moto ini dipilih lantaran adanya dugaan koneksi yang dimiliki oleh kaum nasionalis katalan ditambah juga kepercayaan mereka akan kehidupan dan kepemimpinan yang lebih mengutamakan hal progresif. Akan tetapi pada era kekuasaan francisco franco, barcelona sempat diberikan berbagai keuntungan yang didapatkan oleh kerajaan spanyol lantaran hubungan mereka yang baik dilevel pegawai negeri menjadi bahan tertawaan dunia.
Barcelona sendiri membalas kehormatan yang telah diberikan oleh francisco franco ini dengan memberikan diktator tersebut sejumlah penghargaan berita bola indonesia. Hubungan yang dimiliki antara perwakilan senior dari real madrid dan juga rezim francisco franco memang tidak bisa terbantahkan lagi dan untuk sebagian besar warga katalan, real madrid kerap dianggap sebagai sebuah klub yang lebih mengutamakan keuntungan cepat. Meskipun begitu, presiden kedua belah pihak yakni josep sunyol dan juga rafael sanchez guerra sempat harus dieksekusi ketika perang sipil terjadi dinegara matador seperti ini. Memang rasanya membahas sejarah seperti ini kurang menarik untuk disaksikan mengingat pertandingan el clasico sendiri kerap dianggap sangat seru dan hanya bisa ditandingi oleh laga final liga champions eropa. Namun perlu diingat juga bahwa kita tidak boleh melupakan sejarah yang menjadi tonggak fondasi berdirinya suatu kejayaan, meskipun disisi yang bersamaan setiap pemain sepakbola juga tidak boleh terus menerus berlarut - larut dalam kesuksesan masa lampau.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar