Jumat, 16 Maret 2018

Sebagai Sang Anak Manja

Pada bulan februari tahun dua ribu lima (2005) silam pada sebuah pertandingan tandang berita bola ketika barcelona tengah menyambangi markas real zarargoza, samuel etoo menjadi sasaran ujaran rasisme oleh para pendukung tim tuan rumah. Kala itu ada sebuah bagian di tribun penonton dimana mereka menirukan suara monyet kearah lapangan setiap kali mantan punggawa tim nasional kamerun yang sempat membela chelsea, inter milan, serta sampdoria ini tengah mendapatkan operan bola dari lawannya. Hal yang bisa dibilang agaknya serupa juga tidak jarang didapatkan oleh pemain lain meskipun bukan bertujuan untuk melontarkan ujaran rasisme, seperti misalnya cristiano ronaldo yang kerap disoraki oleh pendukung lawan atau bahkan pendukung real madrid sendiri ketika dirinya tidak mampu menampilkan penampilan mengolah si kulit bundar diatas lapangan hijau yang konsisten sebagai bentuk kekecewaan mereka yang mampu menjadi kampiun.



Akan tetapi ironisnya, sang wasit fernando carmona mendez yang memimpin jalannya laga berita bola dunia antara tuan rumah real zaragoza berhadapan melawan barcelona kala itu tidak menyertakan kejadian yang sama sekali tidak mengenakkan tersebut pada laporan pertandingan yang diserahkan ke pihak penyelenggara setelah peluit panjang dibunyikan. Saat itu wasit fernando carmona mendez hanya mengatakan bahwa kelakuan para penonton, baik tim tuan rumah maupun tamu normal - normal saja. Meskipun begitu, pada akhirnya dua (2) orang dari sekian banyak yang melakukan ujaran rasis terhadap pemain sepakbola profesional yang memiliki tinggi badan seratus delapan puluh sentimeter (180 cm) tersebut ditangkap oleh polisi dan mendapatkan hukuman larangan menghadiri seluruh acara olahraga selama lima (5) bulan lamanya setelah sebelumnya mereka sempat teridentifikasi oleh pihak polisi dengan bantuan penonton lainnya ke liga sekelas rusia.



Tidak lama berselang, samuel etoo menyatakan dalam wawancara terbuka berita sepak bola indonesia mengenai perihal kejadian tersebut bahwa hukuman yang didapatkan oleh kedua pendukung real zaragoza tersebut dianggap masih jauh kurang dibandingkan yang seharusnya dan stadion real zaragoza, la romareda seharusnya ditutup untuk setidaknya satu tahun (1) lamanya atas insiden tersebut. Memang disini para pembaca atau orang - orang pada umumnya akan mengira bahwa seorang pemain sepakbola profesional yang lahir tanggal sepuluh (10) bulan maret tahun seribu sembilan ratus delapan puluh satu (1981) silam dikota douala, kamerun yang berposisi sebagai penyerang itu menunjukkan perlakuan yang agaknya kekanak - kanakan meskipun sebagian orang ada yang berpendapat bahwa hukuman tersebut sangatlah kurang. Namun sebagai seorang pesepakbola, samuel etoo sendiri seharusnya bisa menunjukkan rasa puas dan menerima keadilan yang sudah dijatuhkan kepada para pelanggar tersebut agar dirinya tidak mendapatkan cap sebagai sang anak manja didunia pesepakbolaan seperti sekarang ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar